Rabu, 28 Oktober 2009
Sabtu, 24 Oktober 2009
KRIMINAL & HAM
Masyarakat Wamena Demo Mapolda
"Tuntut Kapolresta Robeth Djoenso Dipertahankan"
Jayapura,-Puluhan Masyarakat Wamena di Kota Jayapura, Jum'at (23/10) siang pukul 12.00 WIT kemarin menggelar unjuk rasa di depan Markas Kepolisian Daerah Papua. Mereka menuntut agar Kapolresta Robeth Djoenso D, SH dipertahankan sebagai Kapolresta Jayapura.
Dari pantuaan Pasific post dilapangan, tampak masyarakat terus berorasi dengan memegang pamlet ukuran besar bertuliskan " Kami Mau Kapolresta Yang Merakyat Serta Mau Berkorban Untuk Rakyat, Kami Tolak Kapolresta Yang Tidak Merakyat. Kami Mohon Kapolri Segera Mencabut TR No. POL : 574.584.549550/X/2009. dan Kembalikan bpk Robeth Djoenso Sebagai Kapolresta Jayapura Hingga Pensiun" walaupun hujan mengguyur Kota Jayapura.
Dalam aksinya, mereka sempat menari-nari ditengah jalan hingga membuat jalan lumpuh selama 3 jam. Bahkan membuat petugas Direktorat Lalu Lintas Polda Papua kwalahan mengatur jalur lalu lintas dengan mengalihkannya menjadi dua jalur.
Koordinator Lapangan, Garius Tabuni disela-sela unjuk rasa kepada wartawan meminta agar berita acara untuk pergantian Kapolresta Jayapura segera dibatalkan. Hal itu dikatakan karena kepemimpinan Kapolresta Robeth Djoenso sangat baik dan berhasil menurut penilaian keluarga besar masyarakat Wamena.
"Jadi hari ini kami datang ke Polda untuk menyampaikan aspirasi pendapat agar segera disampaikan kepada Kapolri, karena situasi di Kota Jayapura, karena apabila Kota tidak aman maka Papua juga tidak aman,"jelasnya
Ia juga mengancam apabila aspirasi ini tidak direspon, hal-hal yang terjadi di Kota Jayapura ataupun di Papua merupakan tangggung jawab Kapolda. " Kembalikan bpk. Robeth Djoenso kepada kami dan tetap menjadi Kapolresta Jayapura,"sahut pendemo yang terus melakukan orasi walaupun hujan main deras.
Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya Kepala Bidang Hukum Polda Papua, Kombes Pol. Petrus Waine menemui pendemo yang tengah menari-nari di depan pintu pagar masuk Mapolda Papua.
Kepada pendemo, Petrus Waine menjelaskan bahwa Kapolresta diganti berdasarkan surat keputusan dari Kapolri, dimana dalam aturanya setiap Kapolres/ta hanya menjabat selama 2 tahun dan selanjutnya harus duganti dengan yang lain. "Maunya masyarakat memang boleh begitu, tapi karena ini sudah keputusan Kapolri, maka kita harus menjalani dulu, baru nanti dipersilahkan lagi kalau mau menjabat Kapolresta lagi,"tuturnya
Menurut Petrus Waine, dalam pergantiannya Kapolresta Robeth Djoenso tidak akan pergi jauh, melainkan hanya bergeser ke Mapolda Papua. "Pa Robeth Djoenso tidak kemana-mana, dia akan tetap di Papua dan masyarakat bisa terus bertemu dengan Pa Robeth di Polda Papua,"terangnya
Hanya saja pihak pendemo tidak setuju dan tetap ngotot Kapolesta Jayapura tidak boleh diganti dan harus dijabat oleh Robeth Djoenso. Tak lama kemudian sejumlah masyarakat tiba-tiba menerbos dengan menggunakan mobil dikerumunan pendemo dengan mimic emosi. Bahkan langsung memaksa masuk ke Polda dan sempat membuat ricuh suasana demo yang disusul dengan upaya sejumlah pengunjuk rasa mencoba memaksa masuk kedalam dengan mendorong pagar.
Setelah sempat bersitegang dengan petugas, pengujuk rasa akhirnya diijinkan mengirimkan 30 orang perwakilan untuk menemui Kapolda Papua. Hanya saja, karena ada kepentingan mendadak Kapolda tidak bisa menemui pengunjuk rasa yang akhirnya diwakili oleh Kabid Kum Polda Papua dan sejumlah pejabat teras Polda Papua.
Dalam pernyataan lisannya di Aula Rastra Samara, Perwakilan Masyarakat Port Numbay menyampaikan bahwa dalam kasus-kasus yang terjadi, kondisi Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura dan Wamena aman ketika jabatan Kapolres dipegang oleh bapak Robeth Djoenso, SH. Demikian juga dari Perwakilan Perempuan, Fonataba, meminta agar Robeth Djoenso dipertahankan sebagai Kapolresta Jayapura, karena selama menjabat kondisi Papua aman.
Smentara itu, dalam pertemuan itu, Perwakilan dari Masyarakat Wamena di Angkasa sempat menanyakan mengapa Kapolresta Robeth Djoenso tidak bisa dipertahankan, walaupun dengan jabatan atau pangkat yang lebih tinggi. "Hanya bapak Robeth Djoenso yang mau membantu mahasiswa apabila kita kekurangan dana, baik itu pembangunan gereja maupun lainny,"ujar salah satu perwakilan Mahasiswa Pegunungan
Setelah menyampaikan aspirasinya secara lisan, pertemuan ditutup dengan doa oleh pendeta.
Ditempat terpisah, Kapolresta Jayapura, AKBP. Robeth Djoenso, SH ketika ditemui diruang kerjanya menjelaskan jabatan di lingkungan Polri bukan seperti jabatan politik. Namun jabatan di Polri murni kewenangan pimpinan dan masyarakat tidak boleh mengintervesi, apalagi dirinya sudah lama menjabat sebagai Kapolresta Jayapura. "Masyarakat juga harus mengerti mutasi ini merupakan bentuk pembinaan di Polri berjalan,"katanya, Jum'at kemarin
Secara pribadi Kapolresta juga mengatakan telah mengajukan pensiun dini dari jabatannya, karena alasan kesehatan dari dokter yang tidak memungkinkan terus beraktifitas.
Namun dengan kejadian ini, pihaknya juga mengatakan hal hendaknya bisa dijadikan pelajaran bagi anggota lainnya, agar melakukan pengabdian kepada masyarakat penuh keikhlasan. "Saya bukan mengabdin kepada pimpinan melainkan pengabdian saya kepada masyarakat. Disamping itu dalam menjalankan tugas di Papua sangat berbeda dengan wilayah lainnya yang harus memperhatikan karateristik daerah maupun masyarakat,"jelas Kapolresta
Kapolda : Rentetan Penembakan di Timika "Bukan" Ulah Kelik Kwalik

Jayapura,- Rentetan penembakan di Areal Freeport, Timika, Tembagapura yang baru-baru ini kembali terjadi terus diselidiki jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Papua. Bahkan dari hasil penyelidikan sementara, Kelik Kwalik mengaku tak terlibat dengan teror tersebut.
" Dari hasil pertemuan sejumlah anggotanya di Timika, Kelik Kwalik mengaku teror di Timika bukan ulah anak buahnya, melainkan kelompok yang lain,"kata Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Papua, Irjen Pol, Drs. FX. Bagus Ekodanto ketika dikonfirmasi wartawan usai serah terima jabatan Wakapolda Papua di Aula Rastra Samara, Jum'at kemarin
Menurut Kapolda, dalam pengungkapan kasus di Timika tidak bisa dilakukan secepat kasus lainnya, apalagi mereka punya metode sendiri untuk mnghindari penangkapan petugas. "Kita juga akan berupaya mengungkap kasus ini,"ujar Kapolda Papua
Kapolda menandaskan pihaknya akan tetap menindak lanjuti teror di Timika yang baru-baru ini kembali terjadi."Untuk pengamanannya 1.500 personel TNI/Polri yang dibagi untuk pengawalan konterner-kontainer milik Freeport dan apabila kontainernya banyak bisa dikawal didepan tengah dan belakang siang dan malam,"kata Kapolda
Kendati demikian Kapolda mengakui untuk pengawalan di Freeport, sarana dan prasarananya terbatas, sehingga harus dilakukan secara bertahap. Sementara TNI juga melakukan pengalawan sesuai dengan pembagian tugas. "Untuk TKP penembakan memang secara kasat mata jaraknya dekat, namun dari ketinggian. Disamping itu jarak posisi ke TKP si penembak sulit dijangkau sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pengejaran saat itu juga,"terangnya
Disinggung wartawan terkait pasokan amunisi milik kelompok orang tak dikenal (OTK) yang tak kunjung habis ? Kapolda mengatakan hal itu belum bisa dijawab, sebelum pelakunya tertangkap. "Jawab sendiri darimana amunisinya, kalau tertangkap baru terungkap,"katanya
Gara-gara Lilin, Hotel Asia Nyaris Terbakar
"Sempat Menghanguskan Closed"
Jayapura,-Gara-gara lilin Hotel Asia yang beralamat di Jalan Hamadi Tanjung, Distrik Jayapura Selatan, Jum'at (23/10) pukul 16.30 WIT nyaris ludes terbakar. Diduga kuat api pemicu kebakaran berasal dari lilin di Kamar 311 yang ditinggal oleh penghuni kamar diatas closed saat listrik padam.
Menurut penuturan pemilik Hotel Asia, Haji Kadir kepada Pasific post kebakaran tersebut diketahui ketika masyarakat sekitar meneriaki kebakaran di Hotelnya. Bahkan setelah dicek kepulan asap hitam sudah keluar dari salah satu jendala kamar.
Seketika itu pula, Kadir langsung meneriaki resprionis Hotel, Muksin (30) dan Ruslan (17) agar segera mengecek keasal kepulan asap. "Saat itu saya langsung menyurh Muksin dan Ruslan untuk mengecek dan berhasil memadamkan sumber api yang diketahui berasal dari closed kamar 311 yang dihuni oleh dua pemain Volly yang akan bertanding dalam Kapolda Cup,"jelas Kadir saat ditemui Pasific post dilokasi kejadian
Menurut Kadir, pemadam listrik di Hamadi sudah berlangsung sejak, Kamis (22/10) malam sekitar pukul 20.00 WIT. Hanya saja, karena tidak memiliki genset, penghuni kamar hotel diminta menggunakan lilin masing-masing. "Mati lampu sejak Kamis malam, sekitar pukul 20.00 WIT. Ya diperkirakan kerugian Rp 200 ribuan,"ucapnya
Sementara itu penghuni kamar 311, Pilipus Key (18) yang tercatat sebagai warga Uncen Atas, Waena kepada Pasific post mengaku dirinya menyalakan lilin sejak pukul 14.30. Hanya saja, ia dan sejumlah temannya sesame pemain Volly WIT lalu pergi berjoging disekitar Jalan Hamadi. Kagetnya ketika kembali sudah mendapat kabar kamar yang ditempatinya terbakar.
"Saya nyalakan lilin pukul 14.30 WIT, namun saat itu saya tinggal keluar berjoging dengan teman-teman dan ketika kembali sudah mendapat kabar Hotel Asia kebakaran,"tuturnya
Kapolresta Jayapura, AKBP. Robeth Djoenso, SH didampingi Kapolsekta Jayapura, AKP. Supraptono, S.Sos ketika dikonfirmasi membenarkan adanya kebakaran tersebut. "Setelah mendapat laporan kita langsung ke TKP, namun api sudah berhasil dipadamkan oleh karyawan Hotel dan hanya membakar closed disalah satu kamar,"terangnya, Jum'at kemarin
Kapolresta menduga api pemicu kebakaran berasal dari lilin yang menyala dan ditinggal oleh penghuni kamar diatas closed toilet kamar mandi yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar. "Dari laporan anggota api berasal dari lilin yang membakar closed, namun untuk memastikanya masih kita selidiki,"ungkapnya
Siswi SD Nabarua Sempat Diculik
Nabire- Pekan lalu siswi kelas 1 SD Inpres Nabarua, TR, diculik. Pelaku pendulikan adalah salah seorang sopir taxi jurusan Nabarua – Siriwini.
Pengakuan korban TR, saat itu dirinya diajak pulang ke rumahnya oleh salah seorang sopir angkot. Saat mobil melewati depan rumah korban yang terletak di KPR Siriwini, korban meminta agar diturunkan. Namun sopir angkot ini terus tancap gas dan mobilpun melewati rumah korban.
Namun di dalam taxi ada seorang ibu asli Papua yang juga selaku penumpang. Dirinya terus mengikuti gerak gerik sopir dan akhirnya ibu ini meminta agar anak itu dipulangkan ke rumah.
Atas bantuan ibu tersebut anak korban TR diturunkan bersama ibu di jalan masuk KPR. Dan TR diantar oleh ibu penyelamat ini hingga ke rumah korban dan ibu tersebut menceritakan kejadian yang baru saja menimpa TR kepada ibu kandungnya.
“Saya diajak pulang, namun di depan jalan masuk KPR ke rumah, saya minta diturunkan tetapi pak sopir terus balap. Tetapi di dalam taxi itu ada satu tante orang Papua dari Suku Biak yang meminta sopir untuk kembali, sehingga saya diantar kembali dan tante itu antar saya sampai ke rumah serta menceritakan kejadian tersebut kepada mama di rumah,” kata korban TR di sekolahnya, Kamis (22/10).
Di SD Inpres Nabarua pada pekan lalu terjadi penculikan lagi, namun pelakunya tukang ojek yang parkir di samping sekolah. Setelah melihat korban keluar sekolah, korban langsung diajak, katanya “Mari om antar kamu pulang mama yang suruh”.
Sesungguhnya dari awal si anak tidak mau, tetapi diajak lagi dengan kata-kata mama ada tunggu kamu dan om disuruh jemput kamu, sehingga korban langsung saja ikut tanpa berpikir panjang.
Namun setelah mau naik ojek, pelaku meminta agar korban naik dan duduk di depan saja. Si korban turuti apa kata tukang ojek satu ini, sementara dalam perjalanan korban diajak jalan tanpa tujuan yang jelas atau pulang ke rumah korban.
Dalam perjalanan itu, pelaku memegang pantat korban sehingga korban berteriak merintih kesakitan. Tetapi pelaku kembali mengancam korban dengan kata-kata “Jika kamu berteriak saya akan bunuh kamu”.
Setelah anak ini dijemput di sekolah, baru diketahui orang tua murid bahwa anaknya telah pulang tetapi belum juga sampai di rumah. Pihak orang tua dan sekolah kembali melakukan pencarian. Setelah dicari bersama korban telah dipulangkan pelaku di jalan-jalan atau bukan di alamat rumah korban.
Saat dikonfirmasi Wakil Kepala SD Inpres Nabarua, Dorkas Madatu Palalangan, Kamis (22/10), membenarkan adanya pelaku penculikan yang terjadi pada saat ini oleh pelaku sopir taxi dan tukang ojek.
Dirinya sangat menyayangkan sikap pelaku yang sangat tidak terpuji itu. Karena kejadian tersebut terjadi pada anak-anak ingusan yang sesungguhnya belum tahu apa-apa yang akan menimpa dirinya itu.
Dirinya meminta dan mengharapkan kepada orang tua murid agar jangan sekali–kali menitipkan anak-anak untuk naik taxi saja atau diantar tukang ojek. Karena sangat dikwatirkan sekali perilaku yang baru saja terjadi ini.
“Syukur kalau tukang ojek yang dipercaya atau keluarga dan untuk naik taxi, terlihat banyak orang tua hanya memberikan uang agar anak-anaknya pulang sekolah langsung naik taxi, sementara orang tua tidak sadari umur anak-anaknya yang masih kecil,” katanya.
Hingga saat ini korban siswi SD yang diantar tukang ojek dikabarkan sangat trauma dan tidak masuk sekolah lagi. Namun pihak sekolah tetap berusaha agar anak tersebut kembali sekolah, asal orang tua juga mau menjemput tepat waktu pulang sekolah.
Kapolda “Lepas Tangan” Pendakian Puncak Cartenz, Bila Memaksa

Jayapura,-Rencana pendakian dari Pemerintah Provinsi Papua bersama sejumlah media cetak maupun elektronik di Puncak Cartenz, Timika untuk pembersihan sampah masih terkatung-katung. Pasalnya, hambatan itu lantaran masih rawannya keamanan akibat aksi penembakan di Freeport yang dikawatirkan akan terjadi hal –hal yang tidak diinginkan saat pendakian.
Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Papua, Irjen Pol. Drs. FX. Bagus Ekodanto ketika dikonfirmasi wartawan mengegaskan bahwa menilik situasi keamanan di Timika saat ini, belum memungkinkan untuk dilakukan pendakian Puncak Cartenz, Timika. Walaupun dari Pemda Timika pagi tadi sudah mengijinkan pendakian puncak Cartenz, namun dengan kondisi saat ini pihak kepolisian tidak menjamin melakukan pengawalan.
“Kalau mereka memaksa akan tetap melakukan pendakian hari ini, kita tidak bisa menjamin keamanannya,”tutur Kapolda, Jum’at kemarin
Meski demikian, Kapolda menyarankan bila tetap memaksa melakukan pendakian hendaknya dengan menggunakan fasilitas udara, seperti helicopter untuk mengindari hal-hal yang tak diinginkan. “Kalau mereka mamaksa, ya, saya sudah sarankan dan tidak bisa menjamin keamanannya,”tegasya
Yang jelas, tandas Kapolda, apabila tim pendaki tetap memaksa, hal itu bukan tanggung jawab polri.
Selasa, 20 Oktober 2009
UMUM & PEMERINTAHAN
2010 Pembangunan Stadion Dimulai

Keerom- Pembangunan stadion di kampung Bate Distrik Arso sudah dipastikan akan dimulai awal tahun depan (2010), dengan anggaran Rp 5 Milyar. Diharapkan pembangunan awal ini dapat berjalan dengan baik.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disporabud) Keerom, Oktovianus Nasadit, S.Sos pembangunan tahap awal itu dipastikan karena pembangunan stadion telah dianggarkan dalam APBD 2010 (Rp 5 M). itu baru pembangunan tahap awal dan rencanannya jika tahun-tahun yang akan datang akan dilanjutkan, sesuai kondisi keuangan.
“Bangun stadion itu tidak bisa satu kali langsung jadi semuanya harus bertahap. Dan 2010 awal pembangunan stadion Keerom, mudahan-mudahan berjalan dengan baik,” ujarnya saat ditemui dilingkungan Pemkab Keerom, Selasa kemarin.
Sejauh ini juga, ungkap Nasadit, pihaknya masih menunggu jumlah bantuan dari Pemerintah Pusat. “Waktu peletakan batu pertama ada janji dari Menpora akan membantu, namun sejauh ini kami belum mengetahui jumlahnya berapa. Kita tunggu saja kabarnya,” katanya.
Disinggung persoalan hak ulayat, Nasadit memastikan tidak ada persoalan lagi, karena telah ada pernyataan dari adat melepas tanah seluas 300 hektar untuk pembangunan stadion. Hanya saja dalam proses pembayaran akan dilakukan secara bertahap dan jumlahnya disesuaikan dengan tanah yang digunakan.
“Sudah ada pelepasan dari adat. Memang belum bayar, nanti dibayar sesuai dengan jumlah tanah yang digunakan pembangunan. Semisalnya tahun ini kita bangun 5 hekatar, jadi dibayar dulu 5 hektar itu. Jadi semuanya tidak sekaligus dibayar 300 hektar,” jelasnya.
Nasadit diakhir pembicaraan berharap pembangunan stadion Keerom berjalan dengan baik sehingga proses peningkatan keolahragaan dapat berjalan dengan baik. “Kami harap dukungan semua pihak, ini demi dunia olah raga kita disini,” pungkasnya.
Pendistribusian Beasiswa Harus Ditertibkan

Keerom- Adanya berbagai keluhan dari berbagai element terkait pembayaran beasiswa yang tidak jelas, ternyata mendapat respon dari Pemerintah Kabupaten Keerom. Yang berpikir harus ditinjau kembali tatanan cara pendistribusian beasiswa, apalagi kepada mahasiswa.
Wakil Bupati Keerom Drs Wahfir Kosasih, SH mengatakan hal itu sangat penting mengingat banyak keluhan bahwa ada mahasiswa yang sudah tidak aktif tapi masih menerima beasiswa. Jadi sebaiknya pendataan mahasiswa Keerom dilakukan kembali secara sempurna dan data-data itu dilaporkan kepada instansi terkait.
“Coba kalau kita data ulang lagi mereka (mahasiswa), mana yang masih aktif, mana yang sudah tidak aktif dan didata juga kebutuhan kuliah yang harus dibayar. Itu dilaporkan dan ditindak sesuai mekanisme,” ujarnya saat ditemui diruang kerjanya Rabu kemarin.
Nah untuk mengantisipasi penyusupan dari belakang, lanjut Wahfir, data-data yang telah dikroscek kebenarannya itu selanjutnya di SK-kan agar menjadi kekuatan hukum untuk menerima beasiswa. Sehingga sewaktu pembayaran petugas wajib meminta untuk menunjukkan SK baru dapat dibayar.
“Kalau seperti itukan tertib, yang punya SK yang terima beasiswa. Selain SK penerima beasiswa wajib menunjukkan bukti-bukti perkuliahan yang lain. Sehingga tidak ada keluhan seperti itu lagi,” tuturnya optimis.
Dan diharapkan dengan bantuan beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa kedepan Keerom memiliki berbagai penerus yang mampu menjalankan roda pembangunan. Sehingga tercipta keinginan dan cita-cita.
Pemkab Keerom Kerja Sama Dengan ITB
“Tingkatkan Teknologi Pendidikan”

Keerom- Demi meningkatkan mutu pendidikan terutama dalam bidang pemenuhan teknologi, Pemkab Keerom melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran melakukan kerja sama dengan Instutut Teknik Bandung (ITB).
Kepala Dinas Pendidikan & Pengajaran Keerom, Zakarias So menegaskan peluang ini harus diambil oleh setiap sekolah termasuk para guru yang merasa masih minim mengetahui perkembangan teknologi dunia pendidikan. Sebab kedepan teknologi menjadi salah satu batu loncatan perkembangan pendidikan.
“Kita harus belajar banyak, baik dari segi materi termasuk juga teknologi. Berbagai terobosan dilakukan kerja sama dengan ITB beserta univesitas lainnya untuk mencapai hal itu, jadi pergunakan dengan baik kesempatan ini,” ujarnya dalam sosialisasi penyelenggaraan program sarjana kependidikan bagi guru.
Kerja sama itu, lanjutnya menliputi berbagai teknologi yang selayaknya diterapkan di sekolah sehingga mampu bersaing dalam jaman era globalisasi. Selain itu mempersiapkan murid untuk turun ke masyarakat dengan berbekal pengetahuan teknologi yang mampu mencari maupun menciptakan lapangan pekerjaan.
“Kita harus membekali murid sebaik mungkin sehingga mereka mampu bersaing, salah satunya teknologi. Jangan mereka sampai tidak tahu dengan berbagai perkembangan itu,” tutur So.
“Makanya guru juga harus belajar tentang teknologi, jangan sampai terjadi murid yang lebih tahu dari guru dan murid yang ajar guru tentang teknologi. Dadasri hal itu,” tambahnya.
Sehingga Dinas Pendidikan & Pengajaran berharap peran serta semua pihak untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan yang digalang tersebut. Sehingga putra-putri Keerom mampu bersaing.
Perlu Juga Kerja Sama Semua Pihak
Keerom- Terkait harapan Himaboda kepada anggota DPRD Keerom yang baru agar memperhatikan kontrol terhadap berbagai program pendidikan, sebelumnya Ketua Sementara Syahbudin, SP menyanggupinya, kini Wakil Ketua Sementara Nahom Wonda turut pula menyanggupi hal yang sama.
Namun hanya saja menurut Nahom selain kerja keras dari DPRD diperlukan juga kerja sama dari berbagai instansi terkait, salah satunya Himaboda sebagai lembaga yang memperhatikan pendidikan. Karena hasil tidak akan maksimal jika DPRD hanya bekerja sendiri.
“Untuk mengatasi masalah itu tidak hanya kami, kami juga membutuhkan peran serta wartawan, Himaboda terutama masyarakat. Hal itu terlebih terhadap masukan informasi,” ujarnya dikantornya Jumat pekan kemarin.
Walaupun komisi nanti terbentuk, Nahom pesimis akan berjalan maksimal jika hanya berharap keapada DPRD. Karena mengingat kondisi geografis Keerom yang luas dan pembangunan berada pada wilayah yang jauh, sangat dibutuhkan masukkan dari masyarakat.
“Kami tidak mungkin bias memantau semua program, masyarakatlah yang memiliki peran lebih besar dari kami. Jadi silakan bagi masyarakat untuk dating jika memang ada keluah terkait program pembangunan, DPRD akan menindaklanjutinya. Dna selain itu kami juga akan menggali berbagai temuan jika kedapatan,” tambah Nahom yang berasal dari Partai Demokrat.
Sehingga diharapkan kerja sama semua pihak untuk memuluskan kinerja DPRD Keerom. “Kami memang sudah berkomitmen untuk mengambil langkah sesuai aturan jika memang ada masalah seperti itu,” pungkasnya.

Keerom- Pembangunan stadion di kampung Bate Distrik Arso sudah dipastikan akan dimulai awal tahun depan (2010), dengan anggaran Rp 5 Milyar. Diharapkan pembangunan awal ini dapat berjalan dengan baik.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disporabud) Keerom, Oktovianus Nasadit, S.Sos pembangunan tahap awal itu dipastikan karena pembangunan stadion telah dianggarkan dalam APBD 2010 (Rp 5 M). itu baru pembangunan tahap awal dan rencanannya jika tahun-tahun yang akan datang akan dilanjutkan, sesuai kondisi keuangan.
“Bangun stadion itu tidak bisa satu kali langsung jadi semuanya harus bertahap. Dan 2010 awal pembangunan stadion Keerom, mudahan-mudahan berjalan dengan baik,” ujarnya saat ditemui dilingkungan Pemkab Keerom, Selasa kemarin.
Sejauh ini juga, ungkap Nasadit, pihaknya masih menunggu jumlah bantuan dari Pemerintah Pusat. “Waktu peletakan batu pertama ada janji dari Menpora akan membantu, namun sejauh ini kami belum mengetahui jumlahnya berapa. Kita tunggu saja kabarnya,” katanya.
Disinggung persoalan hak ulayat, Nasadit memastikan tidak ada persoalan lagi, karena telah ada pernyataan dari adat melepas tanah seluas 300 hektar untuk pembangunan stadion. Hanya saja dalam proses pembayaran akan dilakukan secara bertahap dan jumlahnya disesuaikan dengan tanah yang digunakan.
“Sudah ada pelepasan dari adat. Memang belum bayar, nanti dibayar sesuai dengan jumlah tanah yang digunakan pembangunan. Semisalnya tahun ini kita bangun 5 hekatar, jadi dibayar dulu 5 hektar itu. Jadi semuanya tidak sekaligus dibayar 300 hektar,” jelasnya.
Nasadit diakhir pembicaraan berharap pembangunan stadion Keerom berjalan dengan baik sehingga proses peningkatan keolahragaan dapat berjalan dengan baik. “Kami harap dukungan semua pihak, ini demi dunia olah raga kita disini,” pungkasnya.
Pendistribusian Beasiswa Harus Ditertibkan

Keerom- Adanya berbagai keluhan dari berbagai element terkait pembayaran beasiswa yang tidak jelas, ternyata mendapat respon dari Pemerintah Kabupaten Keerom. Yang berpikir harus ditinjau kembali tatanan cara pendistribusian beasiswa, apalagi kepada mahasiswa.
Wakil Bupati Keerom Drs Wahfir Kosasih, SH mengatakan hal itu sangat penting mengingat banyak keluhan bahwa ada mahasiswa yang sudah tidak aktif tapi masih menerima beasiswa. Jadi sebaiknya pendataan mahasiswa Keerom dilakukan kembali secara sempurna dan data-data itu dilaporkan kepada instansi terkait.
“Coba kalau kita data ulang lagi mereka (mahasiswa), mana yang masih aktif, mana yang sudah tidak aktif dan didata juga kebutuhan kuliah yang harus dibayar. Itu dilaporkan dan ditindak sesuai mekanisme,” ujarnya saat ditemui diruang kerjanya Rabu kemarin.
Nah untuk mengantisipasi penyusupan dari belakang, lanjut Wahfir, data-data yang telah dikroscek kebenarannya itu selanjutnya di SK-kan agar menjadi kekuatan hukum untuk menerima beasiswa. Sehingga sewaktu pembayaran petugas wajib meminta untuk menunjukkan SK baru dapat dibayar.
“Kalau seperti itukan tertib, yang punya SK yang terima beasiswa. Selain SK penerima beasiswa wajib menunjukkan bukti-bukti perkuliahan yang lain. Sehingga tidak ada keluhan seperti itu lagi,” tuturnya optimis.
Dan diharapkan dengan bantuan beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa kedepan Keerom memiliki berbagai penerus yang mampu menjalankan roda pembangunan. Sehingga tercipta keinginan dan cita-cita.
Pemkab Keerom Kerja Sama Dengan ITB
“Tingkatkan Teknologi Pendidikan”

Keerom- Demi meningkatkan mutu pendidikan terutama dalam bidang pemenuhan teknologi, Pemkab Keerom melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran melakukan kerja sama dengan Instutut Teknik Bandung (ITB).
Kepala Dinas Pendidikan & Pengajaran Keerom, Zakarias So menegaskan peluang ini harus diambil oleh setiap sekolah termasuk para guru yang merasa masih minim mengetahui perkembangan teknologi dunia pendidikan. Sebab kedepan teknologi menjadi salah satu batu loncatan perkembangan pendidikan.
“Kita harus belajar banyak, baik dari segi materi termasuk juga teknologi. Berbagai terobosan dilakukan kerja sama dengan ITB beserta univesitas lainnya untuk mencapai hal itu, jadi pergunakan dengan baik kesempatan ini,” ujarnya dalam sosialisasi penyelenggaraan program sarjana kependidikan bagi guru.
Kerja sama itu, lanjutnya menliputi berbagai teknologi yang selayaknya diterapkan di sekolah sehingga mampu bersaing dalam jaman era globalisasi. Selain itu mempersiapkan murid untuk turun ke masyarakat dengan berbekal pengetahuan teknologi yang mampu mencari maupun menciptakan lapangan pekerjaan.
“Kita harus membekali murid sebaik mungkin sehingga mereka mampu bersaing, salah satunya teknologi. Jangan mereka sampai tidak tahu dengan berbagai perkembangan itu,” tutur So.
“Makanya guru juga harus belajar tentang teknologi, jangan sampai terjadi murid yang lebih tahu dari guru dan murid yang ajar guru tentang teknologi. Dadasri hal itu,” tambahnya.
Sehingga Dinas Pendidikan & Pengajaran berharap peran serta semua pihak untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan yang digalang tersebut. Sehingga putra-putri Keerom mampu bersaing.
Perlu Juga Kerja Sama Semua Pihak
Keerom- Terkait harapan Himaboda kepada anggota DPRD Keerom yang baru agar memperhatikan kontrol terhadap berbagai program pendidikan, sebelumnya Ketua Sementara Syahbudin, SP menyanggupinya, kini Wakil Ketua Sementara Nahom Wonda turut pula menyanggupi hal yang sama.
Namun hanya saja menurut Nahom selain kerja keras dari DPRD diperlukan juga kerja sama dari berbagai instansi terkait, salah satunya Himaboda sebagai lembaga yang memperhatikan pendidikan. Karena hasil tidak akan maksimal jika DPRD hanya bekerja sendiri.
“Untuk mengatasi masalah itu tidak hanya kami, kami juga membutuhkan peran serta wartawan, Himaboda terutama masyarakat. Hal itu terlebih terhadap masukan informasi,” ujarnya dikantornya Jumat pekan kemarin.
Walaupun komisi nanti terbentuk, Nahom pesimis akan berjalan maksimal jika hanya berharap keapada DPRD. Karena mengingat kondisi geografis Keerom yang luas dan pembangunan berada pada wilayah yang jauh, sangat dibutuhkan masukkan dari masyarakat.
“Kami tidak mungkin bias memantau semua program, masyarakatlah yang memiliki peran lebih besar dari kami. Jadi silakan bagi masyarakat untuk dating jika memang ada keluah terkait program pembangunan, DPRD akan menindaklanjutinya. Dna selain itu kami juga akan menggali berbagai temuan jika kedapatan,” tambah Nahom yang berasal dari Partai Demokrat.
Sehingga diharapkan kerja sama semua pihak untuk memuluskan kinerja DPRD Keerom. “Kami memang sudah berkomitmen untuk mengambil langkah sesuai aturan jika memang ada masalah seperti itu,” pungkasnya.
Langganan:
Komentar (Atom)

